Cara Mengatasi Diare pada Anak: Kenali Gejala, Pertolongan Pertama, dan Cara Mencegahnya

Cara Mengatasi Diare pada Anak Kenali Gejala, Pertolongan Pertama, dan Cara Mencegahnya

Menjadi orang tua di era sekarang memang penuh tantangan. Salah satunya ketika si kecil tiba-tiba mengalami diare. Kondisi ini sering membuat orang tua khawatir, tetapi tidak perlu panik.

Diare bukan hanya soal anak lebih sering buang air besar (BAB). Kondisi ini dapat menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit sehingga berisiko mengalami dehidrasi. Oleh karena itu, penanganan yang cepat dan tepat sangat penting agar anak tetap sehat dan aktif.

Kenali Tanda-Tanda Diare pada Anak

Diare adalah kondisi ketika anak buang air besar lebih dari tiga kali sehari dengan konsistensi tinja yang lebih cair dari biasanya.

Selain BAB cair, beberapa gejala lain yang sering menyertai diare antara lain:

  • Anak menjadi lebih rewel.
  • Demam.
  • Nafsu makan menurun.
  • Mata tampak cekung.
  • Bibir atau mulut terasa kering.
  • Anak terlihat lemas.

Gejala tersebut dapat menjadi tanda bahwa tubuh anak mulai kehilangan banyak cairan.

Penyebab diare pada anak paling sering adalah infeksi virus atau bakteri yang masuk melalui makanan, minuman, atau tangan yang terkontaminasi kuman.

LINTAS Diare: 5 Langkah Mengatasi Diare pada Anak

Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan pendekatan LINTAS Diare (Lima Langkah Tuntaskan Diare) sebagai penanganan awal pada anak yang mengalami diare.

1. Segera Berikan Oralit

Oralit merupakan pertolongan pertama untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang akibat diare.

Berikan oralit sesegera mungkin sesuai anjuran. Jangan menunggu hingga anak tampak lemas atau mengalami dehidrasi.

2. Berikan Suplemen Zinc

Suplemen zinc dianjurkan selama 10 hari berturut-turut, meskipun diare sudah berhenti.

Zinc membantu mempercepat pemulihan dinding usus, mengurangi keparahan diare, serta menurunkan risiko diare berulang dalam beberapa bulan berikutnya.

3. Tetap Berikan ASI dan Makanan

Saat anak diare, jangan menghentikan pemberian ASI maupun makanan.

ASI tetap menjadi sumber nutrisi terbaik bagi bayi. Sementara itu, anak yang sudah mengonsumsi makanan pendamping tetap perlu makan sesuai usia agar kebutuhan energi dan gizinya terpenuhi selama proses pemulihan.

4. Jangan Memberikan Antibiotik Sembarangan

Tidak semua diare memerlukan antibiotik.

Sebagian besar kasus diare pada anak disebabkan oleh virus sehingga antibiotik tidak memberikan manfaat. Penggunaan antibiotik hanya boleh dilakukan atas anjuran dokter, misalnya pada kasus tertentu seperti diare berdarah akibat infeksi bakteri atau kolera.

5. Ketahui Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter

Segera bawa anak ke puskesmas atau rumah sakit apabila mengalami salah satu kondisi berikut:

  • Demam tinggi.
  • BAB disertai darah.
  • Muntah terus-menerus.
  • Tidak mau minum.
  • Tampak sangat lemas atau mengantuk.
  • Diare tidak membaik setelah tiga hari.

Penanganan medis sejak dini dapat membantu mencegah komplikasi akibat dehidrasi.

Cara Mencegah Diare pada Anak

Mencegah diare tentu lebih baik daripada mengobatinya. Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap hari untuk menurunkan risiko diare pada anak.

  • Biasakan mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan dan setelah buang air atau mengganti popok.
  • Pastikan air minum telah dimasak hingga matang.
  • Jaga kebersihan makanan, peralatan makan, dan lingkungan rumah.
  • Berikan ASI eksklusif sesuai anjuran.
  • Lengkapi imunisasi anak sesuai jadwal, termasuk imunisasi campak dan rotavirus bila tersedia.

Kebiasaan hidup bersih dan imunisasi dapat membantu melindungi anak dari berbagai penyakit infeksi, termasuk diare.

Kesimpulan

Diare pada anak merupakan kondisi yang umum terjadi, tetapi tetap perlu ditangani dengan tepat agar tidak menyebabkan dehidrasi. Orang tua dapat menerapkan langkah LINTAS Diare, yaitu memberikan oralit, zinc, tetap memberikan ASI dan makanan, menghindari penggunaan antibiotik tanpa anjuran dokter, serta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila muncul tanda bahaya.

Dengan penanganan yang cepat dan langkah pencegahan yang tepat, risiko komplikasi akibat diare dapat diminimalkan sehingga proses pemulihan anak berlangsung lebih optimal.

Penulis: dr. Fatimah Yulita

Referensi:

  • Angsyi Ayu. (2018). Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Diare pada Anak Balita di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara. Skripsi, Politeknik Kesehatan Kendari.
  • Asria Mery. (2020). Karakteristik Diare pada Balita di Puskesmas Sudiang Kecamatan Biringkanaya Periode Januari–Desember 2018. Skripsi, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *